BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada tahun 30 Hijrih atau 651 Masehi, hanya berselang
sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA
mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama
berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan
Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian,
tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di
pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan
Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad.
Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah. dalam
makalah ini akan di bahas lebih mendalam mengenai sejarah perkembangan islam di
Indonesia.
B.
Rumusan
Masalah
ü Sejarah
masuknya islam di indonesia
ü Perkembangan
islam di Indonesia
ü Kerajaan-kerajaan
islam di indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
SEJARAH
MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
Di lihat
dari proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia, ada tiga teori
yang berkembang. Teori Gujarat, teori Makkah, dan teori Persia (Ahmad Mansur,
1996). Ketiga teori tersebut, saling mengemukakan perspektif kapan masuknya
Islam, asal negara, penyebar atau pembawa Islam ke Nusantara.
1.
Teori Mekah
Teori Mekah mengatakan bahwa proses masuknya Islam ke
Indonesia adalah langsung dari Mekah atau Arab. Proses ini berlangsung pada
abad pertama Hijriah atau abad ke-7 M. Tokoh yang memperkenalkan teori ini
adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau HAMKA, salah seorang ulama sekaligus
sastrawan Indonesia. Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat
orasi yang disampaikan pada dies natalis Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN)
di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan
bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi
yang dijadikan bahan rujukan HAMKA adalah sumber lokal Indonesia dan sumber
Arab.
Menurutnya,
motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai nilai ekonomi,
melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan
Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh
sebelum tarikh masehi.
Dalam hal ini, teori HAMKA merupakan sanggahan
terhadap Teori Gujarat yang banyak kelemahan. Ia malah curiga terhadap
prasangka-prasangka penulis orientalis Barat yang cenderung memojokkan Islam di
Indonesia. Penulis Barat, kata HAMKA, melakukan upaya yang sangat sistematik
untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang
mesra antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia
dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan HAMKA, orang-orang Islam di Indonesia
mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan dari hanya
sekadar perdagangan. Pandangan HAMKA ini hampir sama dengan Teori Sufi yang
diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum
pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi
biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan
kumpulan atau perguruan tarekat.
2.
Teori Gujarat
Teori Gujarat mengatakan bahwa proses kedatangan Islam
ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat
ini terletak di India bagain barat, berdekaran dengan Laut Arab. Tokoh yang
menyosialisasikan teori ini kebanyakan adalah sarjana dari Belanda. Sarjana
pertama yang mengemukakan teori ini adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden
pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim
di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke7 Masehi), namun yang
menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab
langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke
dunia timur, termasuk Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya, teori Pijnapel
ini diamini dan disebarkan oleh seorang orientalis terkemuka Belanda, Snouck
Hurgronje. Menurutnya, Islam telah lebih dulu berkembang di kota-kota pelabuhan
Anak Benua India. Orang-orang Gujarat telah lebih awal membuka hubungan dagang
dengan Indonesia dibanding dengan pedagang Arab. Dalam pandangan Hurgronje,
kedatangan orang Arab terjadi pada masa berikutnya. Orang-orang Arab yang
datang ini kebanyakan adalah keturunan Nabi Muhammad yang menggunakan gelar
“sayid” atau “syarif ” di di depan namanya.
Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P.
Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik
Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh.
Menurutnya, batu nisan di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat
tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang
terdapat di Kambay, Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan
tersebut diimpor dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau
orang Indonesia yang telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya
adalah kesamaan mahzab Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan
Indonesia.
3.
Teori cina
Teori Cina
mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa)
berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat
Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha,
etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia—terutama
melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7
M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto Al Qurtuby dalam
bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti
Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dam pesisir Cina bagian
selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.
Teori Cina ini bila dilihat dari
beberapa sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat), dapat
diterima. Bahkan menurut sejumlah sumber lokat tersebut ditulis bahwa raja
Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan
keturunan Cina. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan
(sekarang termasuk Vietnam). Berdasarkan Sajarah Banten dan Hikayat Hasanuddin,
nama dan gelar raja-raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan
istilah Cina, seperti “Cek Ko Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta
“Cu-cu”. Nama-nama seperti “Munggul” dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata
lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara Cina yang berbatasan dengan Rusia.
Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid
tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas Cina di
berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang pada abad
ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan Cina, diduduki
pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang Cina. Semua teori di atas
masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan
dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut
B.
PERKEMBANGAN
ISLAM DI INDONESIA
Meskipun Islam baru bisa dikatakan berkembang setelah
berdirinya kerajaan Islam, atau setidaknya ketika ada jalinan hubungan dagang
antara saudaga rmuslim dengan pribumi, namun cara kedatangan Islam dan
penyebarannya di Indonesia tidak dilakukan dari saluran politik atau
perdagangan semata.Setidaknya ada enam saluran berkembangnya Islam di
Indonesia(Yatim:201-203). Saluran perkembangan tersebut meliputi saluran
perdagangan, saluran politik, saluran perkawinan, saluran pendidikan,saluran
kesenian dan saluran tasawuf.
1.
Pendekatan perdagangan
Para pedagang Islam dari Gujarat, Persia dan Arab
tinggal selama berbulan-bulan di Malaka dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.
Mereka menunggu angin musim yang baik untuk kembali berlayar. Maka terjadilah
interaksi atau pergaualan antara para pedagang tersebut dengan raja-raja, para
bangsawan dan masyarakat setempat. Kesempatan ini digunakan oleh para pedagang
untuk menyebarkan agama Islam.
2.
Pendekatan politik
Masuknya Islam melalui saluran ini dapat terlihat
ketika Samudera Pasai menjadi kerajaan, banyak sekali penduduk yang memeluk
agama Islam.Proses seperti ini terjadi pula di Maluku dan Sulawesi Selatan,
kebanyakan rakyat masuk Islam setelah raja mereka memeluk Islam terlebih
dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini.
Dari sini dapat dikatakan pula bahwa kemenangan kerajaan Islam secara politis
banyak menarik penduduk kerajaan yang bukan muslim untuk memeluk agama Islam.
3.
Pendekatan perkawinan
Tak dapat dipungkiri, dari sisi ekonomi, para pedagang
muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi,
sehingga penduduk pribumi, terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk
menjadi istri para pedagang itu. Sebelum prosesi pernikahan, mereka telah
diIslamkan terlebih dahulu, dan setelah mereka memiliki keturunan, lingkungan
kaum muslim semakin luas. Oleh karenanya tidak heran banyak sekali bermunculan
kampung-kampung muslim.
Awalnya kampung ini berkembang di pesisir pantai,
biasanya mereka disebut dengan kampung arab —dan masih terkenal hingga saat
ini. Dalam perkembangan berikutnya, karena ada wanita yang keturunan bangsawan
yang dinikahi oleh pedagang itu, tentu saja kemudian dapat mempercepat proses
islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ampel
dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten,
Brawijayadengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah, raja pertama kerajaan
Demak, dan lain-lain.
4.
Pendekatan pendidikan
Pada proses ini, biasanya dilakukan melalui
pendidikan-pendidikan yang dilakukan oleh para wali, ulama, kiai, atau guru
agama yang mendidik muridmurid mereka. Tempat yang paling pesat untuk
mengembangkan ajaran Islam adalah di pondok pesantren. Di tempat itu para
santri dididik dan diajarkan pendidikan agama Islam secara mendalam, sehingga
mereka betul-betul menguasai ilmu agama. Setelah lulus dari pesantren, para
santri kembali ke daerah asal untuk kemudian menyebarkan kepada masyarakat umum
pelajaran yang telah mereka peroleh di pesantren.
5.
Pendekatan kesenian
Kesenian merupakan wahana untuk berdakwah
bagi para pemuka agama di Indonesia. Pada proses ini yang paling terkenal
menggunakannya adalah para wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Salah
satu media pertunjukan yang paling terkenal melalui pertunjukan wayang. Sunan
Kalijaga, penyebar Islam di daerah Jawa Tengah adalah sosok yang sangat mahir
dalam memainkan wayang. Cerita wayang yang dimainkan berasal dari cerita
Ramayana dan Mahabarata yang memang sudah sangat Tasawuf merupakan bagian ajaran dari Agama Islam.
Para tokoh tasawuf ini biasanya memiliki keahlian
khusus sehingga dapat menarik penduduk untuk memeluk ajaran Islam. Keahlian
tersebut biasanya termanifestasi dalam bentuk penyembuhan bagi orang-orang yang
terkena penyakit, lalu disembuhkan. Ada juga yang termanifestasi sebagai
kekuatan-kekuatan magic yang memang sudah sangat akrab dengan penduduk pribumi
saat itu terkenal dan digemari oleh masyarakat. Dalam
memainkan wayang, selalu disisipkan ajaran-ajaran Islam sehingga penduduk
pribumi mulai akrab dengan ajaran Islam melalui media ini. Yang paling manarik
dalam pertunjukan ini adalah para penduduk tidak dipungut biaya ketika mereka
menyaksikan pertunjukan wayang, mereka hanya diminta untuk melantunkan kalimat
syahadat, sehingga mereka akhirnya masuk Islam dan ikut mendalami ajarannya.
6. Pendekatan tasawuf
Tasawuf merupakan bagian ajaran dari Agama Islam. Para
tokoh tasawuf ini
biasanya memiliki keahlian khusus sehingga dapat menarik penduduk untuk
memeluk ajaran Islam. Keahlian tersebut biasanya termanifestasi dalam bentuk
penyembuhan bagi orang-orang yang terkena penyakit, lalu disembuhkan. Ada juga
yang termanifestasi sebagai kekuatan-kekuatan magic yang memang sudah sangat
akrab dengan penduduk pribumi saat itu.
C.
KERAJAAN-KERAJAAN
ISLAM DI INDONESIA
Dari berbagai proses tersebut, Indonesia kemudian menjadi negara yang
mayoritas penduduknya beragama Islam. Pada perkembangannya ajaran Islam
disalurkan melalui berbagai kerajaan yang berkembang di Indonesia. Kerajaan
Islam yang pertama ada dan berkembang adalah kerajaan Samudera Pasai, dengan
raja pertamanya yang bernama Sultan Malik al-Saleh (1297 M/696 H). Kerajaan ini
terletak di pesisir timur laut Aceh. Selain Samudera Pasai, di Aceh juga ada
kerajaan Aceh Darussalam, yang berdiri di atas kerajaan Lamuri.
Di Jawa kerajaan Islam yang pertama adalah kerajaan
Demak, yang dipimpin oleh raja pertamanya, Raden Patah. Kemudian ada pula
kerajaan Pajang yang dipimpinoleh Jaka Tingkir. Kerajaan ini berdiri setelah
meninggalnya sultan Demak tahun 1546 M. Ada pula kerajaan Mataram yang dipimpin
pertamakali oleh Senopati.
Kemudian kerajaan Cirebon yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Selain di
Sumatera dan Jawa, kerajaan Islam juga tumbuh di tempat lain di nusantara,
seperti Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Di Kalimantan ada kerajaan Banjar
(Kalimantan Selatan), Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur). Di Sulawesi ada
kerajaan Gowa-Tallo, dengan sultan Alauddin (1591-1636) sebagai raja Islam yang
pertama. Selain Gowa-Tallo, di Sulawesi ada kerajaan Bone, Wajo, Soppeng dan
Luwu). Mereka juga menerima Islam pada awal abad 17 M. Sementara itu di Maluku
ada kerajaan Ternate yang memeluk Islam sekitar tahun 1460 dengan pimpinan
seorang raja yang bernama Vongi Tidore.
1.
Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam yang
pertama kali tercatat sebagai kerajaan Islam di Nusantara. Secara pasti,
mengenai awal dan tahun berdirinya kerajaan ini belum diketahui secara pasti.
Akan tetapi menurut pendapat Hasyimi, berdasarkan naskah tua yang berjudul
Izhharul Haq yang ditulis oleh Al-Tashi dikatakan bahwa sebelum Samudra Pasai
berkembang, sudah ada pusat pemerintahan Islam di Peureula (Perlak) pada
pertengahan abad ke-9. Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi
setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan
kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai, akhirnya Perlak mengalami
kemunduran.
Dengan kemunduran Perlak, maka tampillah seorang penguasa lokal yang
bernama Marah Silu dari Samudra yang berhasil mempersatukan daerah Samudra dan
Pasai. Dan kedua daerah tersebut dijadikan sebuah kerajaan dengan nama Samudra
Pasai.
Kerajaan Samudra Pasai terletak di Kabupaten Lhokseumauwe, Aceh Utara, yang
berbatasan dengan Selat Malaka.
2.
Kerajaan Demak
Sebelum dikenal dengan nama Demak, daerah tersebut
dikenal dengan nama
Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah
kekuasaan Majapahit. Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah
seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit.
Dengan berkembangnya Islam di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota
dagang dan pusat penyebaran Islam di pulau Jawa.
Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk
melepaskan diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah
Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau
Jawa dengan rajanya yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak
di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai
Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria.
(sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi).
Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di
mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan
Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai
pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak.
3.
Kerajaan Banten
Seperti yang telah dijelaskan pada uraian materi
tentang kerajaan Demak, bahwa daerah ujung barat pulau Jawa yaitu Banten dan
Sunda Kelapa dapat direbut oleh Demak, di bawah pimpinan Fatahillah. Untuk itu
daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Demak. Setelah Banten diislamkan oleh
Fatahillah maka daerah Banten diserahkan kepada putranya yang bernama
Hasannudin, sedangkan Fatahillah sendiri menetap di Cirebon, dan lebih menekuni
hal keagamaan. Dengan diberikannya Banten kepada Hasannudin, maka Hasannudin meletakkan
dasardasar
pemerintahan kerajaan Banten dan mengangkat dirinya sebagai raja pertama,
memerintah tahun 1552 – 1570.
Lokasi kerajaan Banten terletak di wilayah Banten
sekarang, yaitu di tepi Timur Selat Sunda sehingga daerahnya strategis dan
sangat ramai untuk perdagangan nasional. Pada masa pemerintahan Hasannudin,
Banten dapat melepaskan diri dari kerajaan Demak, sehingga Banten dapat
berkembang cukup pesat dalam berbagai bidang kehidupan.
4.
Kerajaan Mataram
Pada awal perkembangannya kerajaan Mataram adalah daerah kadipaten yang
dikuasai oleh Ki Gede Pamanahan. Daerah tersebut diberikan oleh Pangeran
Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yaitu raja Pajang kepada Ki Gede Pamanahan atas
jasanya membantu mengatasi perang saudara di Demak yang menjadi latar belakang
munculnya kerajaan Pajang. Ki Gede Pamanahan memiliki putra bernama Sutawijaya
yang juga mengabdi kepada raja Pajang sebagai komando pasukan pengawal raja.
Setelah Ki Gede Pamanahan meninggal tahun 1575, maka Sutawijaya menggantikannya
sebagai adipati di Kota Gede tersebut. Setelah pemerintahan Hadiwijaya di
Pajang berakhir, maka kembali terjadi perang saudara antara Pangeran Benowo
putra Hadiwijaya dengan Arya Pangiri, Bupati Demak yang merupakan keturunan
dari Raden Trenggono.
Akibat dari perang saudara tersebut,
maka banyak daerah yang dikuasai Pajang melepaskan diri, sehingga hal inilah
yang mendorong Pangeran Benowo meminta bantuan kepada Sutawijaya. Atas bantuan
Sutawijaya tersebut, maka perang saudara dapat diatasi dan karena ketidakmampuannya
maka secara sukarela Pangeran Benowo menyerahkan takhtanya kepada Sutawijaya.
Dengan demikian berakhirlah kerajaan Pajang dan sebagai kelanjutannya muncullah
kerajaan Mataram. Lokasi kerajaan Mataram tersebut di Jawa Tengah bagian
Selatan dengan pusatnya di kota Gede yaitu di sekitar kota Yogyakarta sekarang.
5. Kerajaan Gowa-Tallo
Di Sulawesi Selatan pada abad 16 terdapat beberapa kerajaan di antaranya
Gowa, Tallo, Bone, Sopeng, Wajo dan Sidenreng. Masing-masing kerajaan tersebut
membentuk persekutuan sesuai dengan pilihan masing-masing. Salah satunya adalah
kerajaan Gowa dan Tallo membentuk persekutuan pada tahun 1528, sehingga
melahirkan suatu kerajaan yang lebih dikenal dengan sebutan kerajaan Makasar.
Nama Makasar sebenarnya adalah ibukota dari kerajaan Gowa dan sekarang masih
digunakan sebagai nama ibukota propinsi Sulawesi Selatan. Secara geografis,
daerah Sulawesi Selatan memiliki posisi yang sangat strategis, karena berada di
jalur pelayaran (perdagangan Nusantara). Bahkan daerah Makasar menjadi pusat
persinggahan para pedagang baik yang berasal dari Indonesia Timur maupun yang
berasal dari Indonesia Barat. Dengan posisi strategis tersebut maka kerajaan
Makasar berkembang menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas jalur perdagangan
Nusantara.
6.
Kerajaan Ternate-Tidore
Kerajaan
Ternate dan Tidore terletak di kepulauan Maluku. Maluku adalah kepulauan yang
terletak di antara Pulau Sulawesi dan Pulau Irian. Jumlah pulaunya ratusan dan
merupakan pulau yang bergunung-gunung serta keadaan tanahnya subur. Keadaan
Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, maka daerah Maluku terkenal
sebagai penghasil rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh dan pala merupakan
komoditi perdagangan rempah-rempah yang terkenal pada masa itu, sehingga pada
abad 12 ketika permintaan akan rempah-rempah sangat meningkat, maka masyarakat
Maluku mulai mengusahakan perkebunan dan tidak hanya mengandalkan dari hasil
hutan. Perkebunan cengkeh banyak terdapat di Pulau Buru, Seram dan Ambon. Dalam
rangka mendapatkan rempah-rempah tersebut, banyak pedagangpedagang yang datang
ke Kepulauan Maluku. Salah satunya adalah pedagang Islam dari Jawa Timur.
Dengan demikian melalui jalan dagang tersebut agamaIslam masuk ke Maluku,
khususnya di daerah-daerah perdagangan seperti
Hitu di
Ambon, Ternate dan Tidore.
Selain
melalui perdagangan, penyebaran Islam di Maluku dilakukan oleh para Mubaligh
(Penceramah) dari Jawa, salah satunya Mubaligh terkenal adalah Maulana Hussain
dari Jawa Timur yang sangat aktif menyebarkan Islam di maluku sehingga pada
abad 15 Islam sudah berkembang pesat di Maluku. Dengan berkembangnya ajaran
Islam di Kepulauan Maluku, maka rakyat Maluku baik dari kalangan atas atau
rakyat umum memeluk agama Islam, sebagai contohnya Raja Ternate yaitu Sultan
Marhum, bahkan putra mahkotanya yaitu Sultan Zaenal Abidin pernah mempelajari
Islam di Pesantren Sunan Giri, Gresik, Jawa Timur sekitar abad 15. Dengan
demikian di Maluku banyak berkembang kerajaan-kerajaan Islam. Dari sekian
banyak kerajaan Islam di Maluku, kerajaan Ternate dan Tidore merupakan dua
kerajaan Islam yang cukup menonjol peranannya, bahkan saling bersaing untuk
memperebutkan hegemoni (pengaruh) politik dan ekonomi di kawasan tersebut.
D. Tujuan Muhammadiyah dan NU
Tujuan dan Visi Misi Pendirian Muhammadiyah
Misi utama yang dibawa
oleh Muhammadiyah adalah pembaharuan (tajdid) pemahaman agama. Adapun yang
dimaksud dengan pembaharuan oleh Muhammadiyah ialah pembaharuan dalam arti
mengembalikan keasliannya kemurniannya, dan pembaharuan dalam arti modernisasi.
Sekarang ini usaha pembaharuan Muhammadiyah secara ringkas dapat dibagi ke
dalam tiga bidang, yaitu: bidang keagamaan, bidang pendidikan, dan bidang
kemasyarakatan.
a.
Bidang keagamaan
Pembaharuan dalam
bidang keagamaan ialah memurnikan kembali dan mengembalikan kepada keasliannya.
Oleh karena itu, dalam pelaksanaan agama baik yang menyangkut aqidah (keimanan)
ataupun ritual (ibadah) haruslah sesuai dengan aslinya, yaitu sebagaimana
diperintahkan oleh Allah swt dalam al-Qur’an dan dituntunkan oleh Nabi Muhammad
saw lewat sunnah-sunnahnya.
b.
Bidang pendidikan
Bagi Muhammadiyah,
pendidikan mempunyai arti penting. Karena melalui bidang inilah pemahaman
tentang Islam dapat diwariskan dan ditanamkan dari generasi ke generasi.
Pembaharuan pendidikan meliputi dua segi. Yaitu segi cita-cita dan segi teknik
pengajaran. Dari segi cita-cita, yang dimaksudkan KH. Ahmad Dahlan ialah ingin
membentuk manusia muslim yang baik budi, alim dalam agama, luas dalam pandangan
dan faham masalah ilmu keduniaan, dan bersedia berjuang untuk kemajuan
masyarakatnya. Adapun teknik, lebih banyak berhubungan dengan cara-cara
penyelenggaraan pengajaran.
c.
Bidang kemasyarakatan
Di bidang sosial dan
kemasyarakatan, usaha yang dirintis oleh Muhammadiyah yaitu didirikannya rumah
sakit, poliklinik, rumah yatim-piatu, yang dikelola melalui lembaga-lembaga dan
bukan secara individual sebagaimana dilakukan orang pada umumnya
A.
Tujuan dan Visi Misi Pendirian NU
Nahdlatul Ulama
didirikan dengan tujuan untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan dan
mengamalkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah dan menganut
salah satu madzhab empat, serta untuk memepersatukan langkah para ulama dan
para pengikut-pengikutnya dalam melakuka kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan
kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat
manusia.
NU dengan demikian
merupakan gerakan keagamaan yang bertujuan untuk ikut membangun dan
mengembangkan insan dan masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT, cerd as, terampil, berakhlak mulia,
tenteram, adil dan sejahtera. NU mewujudkan cita-cita dan tujuannya melalui
serangkaian ikhtiyar yang didasari oleh dasar-dasar faham keagamaan yang
membentuk kepribadian khas NU. Inilah yang kemudian disebut Khitthah Nahdlatul
Ulama.[1][20]
NU didirikan sebagai Jam’iyyah
Diniyyah (organisasi keagamaan kemasyarakatan). Jam’iayyah ini dibentuk
untuk menjadi wadah perjuangan para ulama dan para pengikutnya. Kata ulama
dalam rangkaian Nahdlatul Ulama tidak selalu berarti NU hanya beranggotakan
Ulama tetapi memiliki maksud bahwa Ulama mempunyai maksud kedudukan istimewa
didalam NU, karena baliau adalah pewaris dan mata rantai penyalur ajaran Islam
yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Nahdlatul Ulama
mempunyai dua wajah:
Pertama, wajah Jam’iyyah (NU jam’iyyah). Yaitu sebagai organisasi formal struktural
yang mengikuti mekanisme organisasi modern seperti memiliki pengurus, anggota,
iuran, rapat-rapat resmi, keputusan-keputusan resmi dan lain-lain.[2][21]
Kedua, wajah jama’ah (NU jama’ah). Yaitu kelompok ideologis kultural yang
mempunyai pandangan, wawasan keagamaan dan budaya ala NU. Bahkan mereka tidak
mau dikatakan bukan orang NU. Mereka tersebar dalam berbagai kelompok kegiatan,
seperti jama’ah yasinan, tahlilan, wali murid madrasah NU, jama’ah mushalla dan
sebagainya. Anehnya mereka tidak mudah diatur sebagai jam’iyyah NU.[3][22]
Kedua macan kelompok
tersebut, merupakan potensi bagi organisasi ini. Masing-masing harus diurus
secara baik dan tepat. Bahkan idealnya jam’iyyah NU dapat menjadi organisasi
kader dengan melakukan langkah-langkah taktis seperti:
a.
Tertib administrasi dan organisasi yang mantap, mulai dari pendaftaran
anggota, mutasi, proses pembentukan pengurus dan sebagainya.
b.
Pembinaan odeologi dan wawasan yang mumpuni.
c.
Disiplin operasional dan langkah-langkah perjuangan.
Sedangkan sebagai
jam’ah NU, mereka diharapkan menjadi pendukung masal bagi gagasan, sikap,
langkah amaliah organisasi dan sebagainya, meskipun keberadaan mereka tidak
terdaftar sebagai warga jam’iyya
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Islam datang ke Indonesia ketika pengaruh Hindu dan
Buddha masih kuat. Kala itu, Majapahit masih menguasai sebagian besar wilayah
yang kini termasuk wilayah Indonesia. Masyarakat Indonesia berkenalan dengan
agama dan kebudayaan Islam melalui jalur perdagangan, sama seperti ketika
berkenalan dengan agama Hindu dan Buddha. Melalui aktifitas niaga, masyarakat
Indonesia yang sudah mengenal Hindu-Buddha lambat laun mengenal ajaran Islam.
Persebaran Islam ini pertama kali terjadi pada masyarakat pesisir laut yang
lebih terbuka terhadap budaya asing. Setelah itu, barulah Islam menyebar ke
daerah pedalaman dan pegunungan melalui aktifitas ekonomi, pendidikan, dan
politik.
Proses masuknya agama Islam ke Indonesia tidak
berlangsung secara revolusioner, cepat, dan tunggal, melainkan berevolusi,
lambat-laun, dan sangat beragam. Dan dalam perkembangan selanjutnya bermunculan
banyak kerajaan-kerajaan islam di Indonesia seperti samudera pasai dan
kerajaan-kerajaan islam lainnya.
B. Saran
Kami sebagai pembuat makalah bukanlah makhluk yang
sempurna. Apabila ada kalimat yang tidak berkenan pada tempatnya. Kami berharap
kritik dan saran dari Bapak pembimbing dan rekan mahasiswa/i sekalian yang
bersifat membangun agar kami bisa membuat makalah yang lebih baik pada waktu
yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdullah,
Taufik (ed.).1991.Sejarah Umat Islam
Indonesia. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia.
Badri, Yatim. 2000. Sejarah Peradaban
Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada Poesponegoro, Marwati Djoened dan
Nugroho Notosusanto.1993. Sejarah
Nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono, R.1973.Pengantar Sejarah
Kebudayaan Indonesia, Jilid 2 dan 3. Yogyakarta: Kanisius.
Sudarmanto.Y.B..1996.Jejak-Jejak
Pahlawan dari Sultan Agung Hingga Syekh Yusuf. Jakarta: Grasindo.
Suryanegara, Ahmad Mansur. 1996. Meneruskan
Sejarah – Wacana Pergerakan Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.